RINGKASAN MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
Pertemuan ke3
Nama : Intan Nur Fatikha Mulya
Npm : 15120033
Kelas : 7A PGSD
Mengelola Diri Sendiri
Assalamualaikum,
Saya akan mengulas kembali mata kuliah filsafat pendidikan yang dilaksanakan pada Selasa, 16 Oktober 2018, yang dilaksanakan di GD 4.15 tepatnya pukul 13.00 WIB . Perkuliahan ini di ampu oleh dosen saya yang bernama Bapak Moh. Aniq KHB, S.Pd., M, Hum.
Pada perkuliahan itu membahas tentang “Mengelola Diri Sendiri”
Berikut penjelasan yang disampaikan oleh beliau :
Dalam kehidupan yang sulit dilakukan adalah bagaiamana manusia itu dapat mengelola dirinya sendiri. Apasih yang dimaksud dengan mengelola diri sendiri ? Mengelola diri sendiri yaitu cara atau kemampuan individu tersebut mengatur dirinya sendiri berdasarkan tujuan personal.
Contoh dari mengatur diri sendiri yang disampaikan oleh beliau yaitu setiap orang diberi aturan makan sehari tiga kali, namun yang setiap orang memiliki hak untuk menentukan dirinya mau makan sehari berapa kali. Ada yang sehari makan tiga kali dan ada juga yang makan hanya dua kali dalam sehari, mungkin ada yang lebih dari tiga kali juga. Nah ini tandanya manusia dapat mengatur dirinya sendiri walaupun tidak beraturan, yang diibaratkan seperti segitiga tidak beraturan, walaupun tidak beraturan tetapi masih berwujud segitiga.
Sejatinya manusia dapat mengatur orang lain, akan tetapi untuk mengatur dirinya sendiri belum bisa. Seharusnya kita dapat mengatur diri kita sendiri terlebih dahulu dengan baik dalam menjalani kehidupan, sebelum kita mengatur orang lain. Jika kita saja masih seperti segitiga yang tidak beraturan lantas bagaimana kita bisa mengatur orang lain.
Seharusnya kita sendirilah yang lebih pintar mengatur atau mengolah dirinya sendiri, karena diri kita sendiri yang tau atau mengetahui kadar kemampuan yang kita miliki sendiri. Mengelola diri ini berkaitan dengan pendidikan karakter, karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menajadi ciri khas yang dimiliki tiap individu. Pendidikan karakter itu dibatasi oleh formalisme.
Ketika dipesantren beliau menemui santri senior yang sedang berdiskusi dan membawa buku(kitab) sangat banyak. Namun pada saat berdiskusi santri tersebut mendapat pertanyaan yg mungkin susah untuk menjawab. Pertanyaannya yaitu “mengapa pada saat berdzikir kebanyakan orang selalu menggelengkan kepalanya” dia memikirkannya sampai lama. Ketika itu datanglah pak kyai, meminta untuk membuatkan kopi. Santri itu bergegas membuatkan kopi dan dituang ke gelas untuk dikasih ke pak kyai. Lalu pak kyai berkata “Masyaallah enak tenan kopi iki” sambil menikmati kopi tersebut dan menggelengkan kepalanya. Lalu santri tersebut mendapat jawabannya bahwa hanya meminum kopi saja bisa senikmat itu, lalu bagaimana dengan nikmatnya berdzikir.
Menurut Ki Hajar Dewantara yang telah di sampaikan oleh beliau, manusia adalah sebagai Titahing Gusti. Titahing Gusti dapat diartikan sebagai kholifah atau titipan, wujud kesadaran diri sebagai manusia yang benar-benar manusia.
Sekian reportase yang dapat saya sampaikan, Terimakasih .